Hadis tentang Cara Berinteraksi dengan Sesama


Hijrahnya Rasulullah Saw dan para sahabatnya ke kota Madinah membawa perubahan besar, menghentakkan perhatian dunia, menggoncang altar sejarah umat manusia. Perubahan drastis terjadi, arus perubahan itu pada utamanya terletak dalam semangat saling tolong menolong, meniupkan angin persatuan, keadilan, membungkam suara perpecahan, fanatisme etnis, suku, dan ras, semuanya bersatu di bawah bendera Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah.

Rasulullah saw menegakkan masyarakat Islam atas dasar persaudaraan yang kokoh dan kuat. Karenanya kaum muslimin itu bersaudara. Dalam Islam, persaudaraan tidak mengenal batas-batas teritorial, geografis, suku, etnis, ras, maupun warna kulit. Persaudaraan dalam Islam senantiasa mengikat dan mempersatukan tujuan serta memperkuat barisan, mengajak kepada kerjasama, gotong royong, bahu membahu atas dasar kebaikan dan kasih sayang.

Berkenaan dengan urgensi persaudaraan bagi umat Islam, sebagai pemersatu menjunjung agama Allah, maka makalah ini disusun untuk memaparkan sekilas penjelasan mengenai hadis tentang persaudaraan dalam pembahasan selanjutnya.

 

 

  1. Teks Hadis

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ يَعْنِي ابْنَ قَيْسٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَوْلَى عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

” Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab; Telah menceritakan kepada kami Dawud yaitu Ibnu Qais dari Abu Sa’id budak ‘Amir bin Kuraiz dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya. hartanya, dan kehormatannya.” [1]

 

 

 

Tahqiq dan Takhrij Hadis

Berikut tabel hadis dalam hasil pencarian[2] :

No Sumber Kitab No. Hadis
1 Bukhari Adab 5604, 5605, 5606, 5612
2 Muslim Berbuat baik, menyambut silaturahmi dan adab 4641, 4642, 4646, 4648, 4650
3 Abu Daud Adab 4264
4 Tirmidzi Berbakti dan menyambut silaturrahmi 1858
5 Ibnu Majah Doa 3839
6 Ahmad Musnad 10 sahabat yang dijamin masuk surga 5, 17, 34
7 Malik Lain-Lain 1411, 1412

 

Hadis yang sedang diteliti adalah tentang persaudaraan. Setelah dilakukan penelitian melalui takhrij hadis dengan cara penelusuran lewat topik hadis dengan kata kunci wa laa ta haasaduu, informasi yang diperoleh adalah hadis-hadis tentang masalah tersebut terdapat dalam Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Muwatha’ Malik.

Tabel Urutan Rawi dan Sanad Hadis

No Nama Periwayat Urutan sebagai Rawi Urutan sebagai Sanad
1 Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab

 

Periwayat I Sanad IV
2 Daud bin Qais

 

Periwayat II Sanad III
3 Abu Sa’id maula ‘Abdullah
bin ‘Amir bin Kuraiz
Periwayat III Sanad II
4 Abdur Rahman bin Shakhr

 

Periwayat IV Sanad I
5 Muslim Periwayat V Mukharrij al-Hadis

 

Deskripsi dan penilaian ulama kritikus hadis dapat dilihat dalam pembahasan di bawah ini :

  1. Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab (wafat 221 H)

Periwayat ini tergolong dari kelompok tabi’ut tabi’in. Nama kuniyahya adalah Abu ‘Abdur Rahman. Semasa hidup beliau di negeri Madinah. Penilaian ulama terhadap kapasitas yang ada dalam periwayat ini adalah seorang yang siqat. Ibnu Hibban menyebutkan rawi ini dalam ‘ats tsiqaat. Ibnu hajar berkomenar bahwa rawi ini tsiqah ahli ibadah. Abu Hatim berkomentar bahwa rawi ini tsiqah hujjah.

 

  1. Daud bin Qais

Beliau termasuk dalam tabi’in. Nama kuniyahnya adalah Abu Sulaiman. Penilaian ulama terhadap kapasitas yang ada dalam Daud bin Qais adalah seorang yang siqat, yaitu Asy Syafi’i (menilai tsiqah hafidz), Ahmad bin Hambal, An Nasa’i, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Madini, As Saaji, dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani menilai tsiqah fadil.

 

  1. Abu Sa’id maula ‘Abdullah bin ‘Amir bin Kuraiz

Periwayat ini tergolong kelompok tabi’in. Nama kuniyahnya adalah Abu Sa’id. Ibnu Hibban mentsiqahkannya dan Adz Dzahabi menilai beliau adalah seorang yang siqat.

 

  1. Abu Rahman bin Shakhr

Periwayat ini tergolong dari kelompok sahabat. Nama kuniyahnya adalah Abu Hurairah. Semasa hidup beliau di negeri Madinah dan wafat tahun 57H. Penilaian Ibnu Hajar Al Ashqalani terhadap kapasitas yang ada dalam diri beliau adalah sebagai sahabat.[3]

 

  1. Makna Mufradat

تَحَاسَدُوا : saling mendengki

تَنَاجَشُوا : saling memfitnah

تَبَاغَضُوا : saling membenci

تَدَابَرُوا : saling memusuhi[4]

Untuk asbab al-wurud hadis ini belum saya temukan dalam kitab dan media manapun.

  1. Syarah dan Kontekstualisasi Hadis

 

Hadis ini menjelaskan tentang  cara berinteraksi atau bersilaturrahmi bagi seorang muslim terhadap muslim lainnya. Urgensi silaturrahmi akan tercermin apabila setiap personal dapat menjaga hubungan baik dengan sesamanya. Rasulullah melarang umatnya saling mendengki, saling menfitnah, saling membenci, saling memusuhi, juga anjuran untuk selalu menjaga tingkah laku agar setiap apa yang dikerjakan, dikatakan tidak menyakiti sesama, terutama terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah yang bersinggungan langsung maupun tidak dengan sosial kemasyarakatan. Emosi memang menjadi tumpuan untuk menghasilkan cara-cara berinteraksi tersebut. Tindakan saling menjaga perasaan orang lain dengan mengaplikasikan naluri kepedulian dan kepekaan sosial akan memunculkan aspek-aspek positif lainnya. Kebaikan yang kita berikan kepada orang lain, akan kembali kepada diri kita sendiri.

Apabila seseorang memiliki karakter yang menyayangi semua orang, senang menolong, menjauhi rasa dengki, benci kepada sesama, akan membuat kesan positif bagi orang yang memandangnya. Orang lain tidak akan segan-segan menjalin interaksi dekat dengan orang tersebut. Misalnya dalam bidang ekonomi, seorang pemilik warung makan kecil yang ramah dan memberikan pelayanan yang baik bagi pelanggannya. Implikasinya, modal hati si pemilik warung cukup untuk menarik simpati pengusaha sukses, yang berniat mengadakan hubungan kerjasama dengannya. Pengusaha besar tersebut sebagai pemilik modal yang menyediakan rumah makan yang layak dan lebih besar, dan pemilik warung kecil tersebut menyediakan menu makanan yang enak dan lezat. Sehingga, apabila dilihat dari perspektif ekonomi, terdapat relasi antara karakter si pemilik warung yang  berusaha menjaga interaksi yang baik dan dekat dengan pelanggannya, kemudian hubungan tersebut berimplikasi peningkatan kesejahteraan keluarga.

Silaturrahmi yang apa adanya memang hanya sekedar bermakna menjaga interaksi yang baik antar sesama. Namun, muslim yang progresif akan menemukan esensi dari silaturrahmi itu sendiri, kemudian mengupayakan agar tercipta simbiosis mutualisme  antar sesama dan membina interaksi  yang produktif.

Terdapat penegasan Rasul dengan simbol mengucapkan nasehat berulang kali, tentang takwa. Dalam teks hadis di atas disebutkan bahwa takwa itu juga dicerminkan dengan keadaan hati seseorang. Hati yang tertata dengan baik, dibumbui dengan akhlak mulia,  dan tidak akan berbuat jahat kepada sesamanya. Suatu penghinaan yang ditujukan kepada sesama saudara seperti halnya menghina diri sendiri. Seharusnya, sebagai saudara, kita harus menutupi kekurangan sesama. Bukan dengan penghinaan, namun dengan kritik dan solusi-solusi yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi pribadi saudaranya.

Kehidupan tidak akan lepas oleh sifat-sifat plural yang terdapat pada tubuh suatu kelompok masyarakat. Pada suatu kesempatan, seorang muslim harus berinteraksi dengan non-muslim. Allah tidak hanya memerintahkan berbuat baik kepada sesama muslim.

Selama mereka tidak melakukan tindakan konfrontasi, maka kita tidak boleh melukai non-muslim. Islam mengajarkan toleransi antar umat beragama. Menurut perjalanan sejarah, permusuhan tidak akan menghasilkan hal positif. Kasus muslim yang merusak tempat peribadatan umat Kristiani akan menimbulkan luka di hati mereka yang membekas. Tidak menutup kemungkinan, luka itu berkembang menjadi kebencian yang besar, kemudian balik menyerang kita.

Adanya ormas-ormas atau kelompok dalam masyarakat memang di dalamnya terdapat solidaritas yang kuat. Namun, biasanya silaturahmi yang terlalu solid di dalam kelompok tersebut dapat menciptakan primodialisme kelompok. Sehingga muncul sikap menegasikan kelompok lainnya.

 

Silaturahmi dalam kehidupan masyarakat lebih membutuhkan interaksi yang bersifat simbiosis mutualisme. Interaksi yang baik antar sesama dapat kita pelihara dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Antara lain, tidak saling dengki, fitnah, benci, memusuhi, tidak boleh menyakiti, merendahkan ataaupun menghina. Hati seseorang tercermin dari bagaimana ia memperlakukan sesamanya. Seperti halnya ketakwaan, kepatuhan hamba kepada Tuhannya diukur dari apakah ia mau mematuhi perintahnya dan menjaga diri terhadap segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.

Setiap individu wajib memiliki kelemahan, sebagai ciri-ciri manusia yang tidak akan sempurna. Namun, interaksi yang baik juga dapat dilakukan dengan cara membantu sesama mengurangi kekurangannya, dengan memberi kritik dan solusi. Bukan sekedar merendahkan, menghina kemudian membenci hal buruk pada saudaranya.


[1] Shahih Muslim. Kitab : Berbuat baik, menyambut silaturahmi dan adab. Bab : Haramnya berlaku zhalim kepada sesama muslim, menghina dan meremehkannya
no. 4650 http://125.164.221.44/hadisonline

[2] http://125.164.221.44/hadisonline dengan kata kunci لَا تَحَاسَدُوا diakses tanggal 10 oktober 2012

[3] Shahih Muslim. Kitab : Berbuat baik, menyambut silaturahmi dan adab. Bab : Haramnya berlaku zhalim kepada sesama muslim, menghina dan meremehkannya
no. 4650 http://125.164.221.44/hadisonline

[4] Atabik Ali. Kamus Kontemporer Arab – Indonesia. Yogyakarta : Multi Karya Grafika.

 

Feel free to leave any comment ...... :) thanks guys

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s